Ditulis Oleh : Heryanti, S. Pd. I
Dikutip dari berbagai sumber
Sahabat,
berbahagialah kita, jika saat ini kita TIDAK MENUNDA kesempatan BERAMAL
SHOLEH dalam bentuk apapun, ketika kesempatan dan kemampuan kita masih
ada walau itu kecil tak seberapa.
Jatah hidup yang amat terbatas
ini, memang akan membuat kita akan sangat MENYESAL jika kita MENUNDA
melaksanakan sebuah KEBAJIKAN.
Kisah ini terjadi di zaman Rosulullah SAW :
Seperti
biasa ketika hari Jum'at tiba para kaum lelaki berbondong-bondong
menunaikan ibadah Sholat Jum'at ke Masjid, ketika itu ada seorang
Sahabat sedang bergegas menuju ke Masjid di tengah jalan berjumpa dengan
orang buta yang bertujuan sama. Si buta itu tersaruk-saruk karena tidak
ada yang menuntunnya, lalu sahabat ini dengan sabar dan penuh kasih
membimbingnya hingga tiba di masjid.
Pada hari yang lain
ketika waktu menjelang Shubuh dengan cuaca yang amat dingin, Sahabat
tersebut hendak menunaikan Jama'ah Sholat Shubuh ke Masjid, tiba-tiba
ditengah jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk
menggigil, hampir mati kedinginan, kebetulan Sahabat tadi membawa dua
buah mantel, maka ia mencopot mantelnya yang lama untuk diberikan kepada
lelaki tua tersebut dan mantelnya yang baru ia pakai
Pernah juga
pada suatu ketika Sahabat tersebut pulang ke rumah dalam keadaan sangat
lapar, kemudian sang istri menghidangkan sepotong roti yang telah
dicampur dengan daging, namun tiba-tiba ketika hendak memakan roti yang
sudah siap santap untuk dimakan tadi datanglah seorang musafir yang
sedang kelaparan mengetuk pintu meminta makan, akhirnya roti yang hendak
beliau makan tersebut dipotong menjadi dua, yang sepotong diberikan
kepada musafir dan yang sepotong lagi beliau memakannya.
Maka
ketika Sahabat tersebut wafat, Rosulullah Muhammad SAW datang, seperti
yang telah biasa dilakukan beliau ketika salah satu sahabatnya meninggal
dunia Rosulullah mengantar jenazahnya sampai ke kuburan. Dan pada saat
pulangnya disempatkannya singgah untuk menghibur dan menenangkan
keluarga almarhum supaya tetap bersabar dan tawakal menerima musibah
itu.
Kemudian Rosulullah berkata," Tidakkah almarhum mengucapkan wasiat sebelum wafatnya?"
Istrinya
menjawab, saya mendengar dia mengatakan sesuatu diantara dengkur
nafasnya yang tersengal-sengal menjelang ajal" "Apa yang di katakannya?"
"saya tidak tahu, ya Rosulullah, apakah ucapannya itu sekedar rintihan
sebelum wafat, ataukah pekikan pedih karena dasyatnya sakaratul maut.
Cuma, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang
terpotong-potong."
"Bagaimana bunyinya?" desak Rosulullah.
Istri
yang setia itu menjawab, "suami saya mengatakan "Andaikata lebih
panjang lagi......andaikata yang masih baru...... andaikata
semuanya......."
hanya itulah yang tertangkap sehingga kami
bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan itu igauan dalam keadaan
tidak sadar,ataukah pesan-pesan yang tidak selesai?"
Rosulullah tersenyum."sungguh yang diucapkan suamimu itu tidak keliru,"ujarnya.
Jadi
begini. pada suatu hari ia sedang bergegas akan ke masjid untuk
melaksanakan shalat jum'at. Ditengah jalan ia berjumpa dengan orang buta
yang bertujuan sama. Si buta itu tersaruk-saruk karena tidak ada yang
menuntun.
Maka suamimu yang membimbingnya hingga tiba di masjid.
Tatkala hendak menghembuskan nafas penghabisan, ia menyaksikan betapa
luar biasanya pahala amal sholehnya itu, lalu iapun berkata "andaikan
lebih panjang lagi". Maksud suamimu, andaikata jalan ke masjid itu lebih
panjang lagi, pasti pahalanya lebih besar lagi.
Ucapan lainnya ya Rosulullah?" tanya sang istri mulai tertarik.
Nabi
menjawab,"adapun ucapannya yang kedua dikatakannya tatkala, ia melihat
hasil perbuatannya yang lain. Sebab pada hari berikutnya, waktu ia pergi
ke masjid pagi-pagi, sedangkan cuaca dingin sekali, di tepi jalan ia
melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, hampir mati
kedinginan.
Kebetulan suamimu membawa sebuah mantel baru, selain
yang dipakainya. Maka ia mencopot mantelnya yang lama, diberikannya
kepada lelaki tersebut. Dan mantelnya yang baru lalu dikenakannya.
Menjelang
saat-saat terakhirnya, suamimu melihat balasan amal kebajikannya itu
sehingga ia pun menyesal dan berkata, "Coba andaikan yang masih baru
yang kuberikan kepadanya dan bukan mantelku yang lama, pasti pahalaku
jauh lebih besar lagi".Itulah yang dikatakan suamimu selengkapnya.
Kemudian, ucapannya yang ketiga, apa maksudnya, ya Rosulullah?" tanya sang istri makin ingin tahu.
Dengan
sabar Nabi menjelaskan,"ingatkah kamu pada suatu ketika suamimu datang
dalam keadaan sangat lapar dan meminta disediakan makanan? Engkau
menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur dengan daging. Namun,
tatkala hendak dimakannya, tiba- tiba seorang musyafir mengetuk pintu
dan meminta makanan.
Suamimu lantas membagi rotinya menjadi dua
potong, yang sebelah diberikan kepada musyafir itu. Dengan demikian,
pada waktu suamimu akan nazak, ia menyaksikan betapa besarnya pahala
dari amalannya itu. Karenanya, ia pun menyesal dan berkata ‘ kalau aku
tahu begini hasilnya, musyafir itu tidak hanya kuberi separoh. Sebab
ANDAIKATA SEMUANYA KUBERIKAN KEPADANYA, sudah pasti ganjaranku akan
berlipat ganda
Sahabat, coba sejenak renungkan Ayat-Ayat dibawah ini :
“(Demikianlah
keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada
seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke
dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku
tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang
diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka
dibangkitkan. (Qs. Al Mu’minuun : 99-100)
“Dan belanjakanlah
sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang
kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya
Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu
yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk
orang-orang yang saleh?“ Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan
(kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah
Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al Munaafiquun : 10-11)
“Dan
berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu
itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang zalim:
“Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia)
walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan
Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul.” (Kepada mereka dikatakan):
“Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu
tidak akan binasa?”(Qs. Ibrahim : 44)
“Pada hari datangnya
kebenaran pemberitaan Al Quran itu, berkatalah orang-orang yang
melupakannya sebelum itu: “Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan
kami membawa yang hak, maka adakah bagi kami pemberi syafa’at yang akan
memberi syafa’at bagi kami, atau dapatkah kami dikembalikan (ke dunia)
sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?.“
(Qs. Al A’raaf : 53)
“Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya
kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan
kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan kami, kami
telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami
akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang
yakin.“ (Qs. As Sajdah : 12)
“Dan jika kamu (Muhammad) melihat
ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: “Kiranya kami
dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami,
serta menjadi orang-orang yang beriman“, (tentulah kamu melihat suatu
peristiwa yang mengharukan). Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka
kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka
dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka
telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah
pendusta belaka.” (Qs. Al An’aam : 27-28)
“Dan siapa yang
disesatkan Allah maka tidak ada baginya seorang pemimpinpun sesudah itu.
Dan kamu akan melihat orang-orang yang zalim ketika mereka melihat azab
berkata: “Adakah kiranya jalan untuk kembali (ke dunia)?“ (Qs. Asy
Syuura :44)
------------------------------------------------------
BAHAGIAKAN HATI DENGAN MEMBERI, LAPANGAN JIWA DENGAN SEDEKAH,
HIDUP INI MENCARI BEKAL BUKAN MENAMBAH BEBAN,
APA YANG ADA DALAM GENGGAMAN KITA ADALAH BEBAN, SEDANG YANG KITA BARIKAN ADALAH BEKAL
LEPASKAN APA YANG ADA DALAM GENGGAMAN KITA UNTUK AGAMANYA, MAKA ALLAH AKAN MELEPASKAN APA YANG ADA DITANGANNYA UNTUK KITA.